Ketua Projo Lingga Semprot Pemkab: “Pegawai Gemuk, Kinerja Bobrok, Bayar Utang Cuma Angin Surga!”

Lingga, gebraknusantara.id Janji Wakil Bupati Lingga, Novrizal, yang sesumbar bakal melunasi utang proyek tahun anggaran 2025 pada akhir April 2026, kini resmi dicap sebagai “angin surga” tak bernyawa dan sekadar gimik politik murah.

Hingga kalender memasuki pengujung April, tanda-tanda pencairan dana tersebut masih gelap gulita, meninggalkan para kontraktor lokal megap-megap dijerat utang yang kian mencekik leher.

Ketua Projo Lingga, Selamat Riyadi, meradang melihat kenyataan pahit ini. Dengan nada sarkas, ia mempertanyakan kompetensi Pemerintah Kabupaten Lingga dalam mengelola tata kelola keuangan daerah yang kian hari kian semrawut dan tak keruan.

“Buat apa kita punya ribuan pegawai di pemerintahan kalau urusan administrasi rutin begini saja hasilnya nol besar? Semakin banyak orang bukannya makin rapi, malah makin hancur. Ini bukti nyata manajemen keuangan kita dikelola secara amatiran dan tidak punya hati!”, tegas Selamat Riyadi marah😡, Sabtu (25/04).

​Ia menambahkan, kegagalan ini bukan sekadar soal teknis anggaran, melainkan cermin dari ketidakpedulian penguasa terhadap nasib putra daerah. Sangat ironis, di tengah birokrasi yang gemuk, performa bayar utang Pemkab Lingga justru “letoy” dan penuh drama.​

Keresahan ini merupakan buntut dari janji manis Novrizal saat merespons aksi Aliansi Pemuda Lingga di kantor DPRD beberapa waktu lalu. Alih-alih menjadi solusi, janji itu justru menjadi “lubang kubur” baru bagi pengusaha kecil. Faktanya, demi menuntaskan proyek pemerintah, berberapa kontraktor lokal terpaksa berutang ke rentenir dengan bunga gila-gilaan mencapai 10 hingga 15 persen per bulan.

“Kami dipaksa kerja cepat, kalau telat didenda penalti. Tapi giliran pemerintah yang telat bayar, mereka santai saja tanpa merasa berdosa. Ini bukan gaya memimpin, ini gaya menindas rakyat sendiri!”, cetus salah seorang kontraktor lokal dengan nada getir dan wajah melas🥺.

Beberapa kasus, dampak sosialnya pun mulai mengerikan, tagihan bank menumpuk hingga biaya sekolah anak-anak terancam putus akibat modal mati di tangan pemerintah. Dugaan kuat muncul bahwa janji pelunasan di bulan April hanyalah taktik “PHP” (Pemberi Harapan Palsu) untuk meredam gejolak massa.

Ironisnya, kabar pembayaran utang proyek tersebut diduga baru akan dianggarkan pada APBD Perubahan 2026, yang artinya para kontraktor harus “puasa” lebih lama lagi.

Selamat Riyadi kembali menegaskan bahwa Novrizal, yang notabene adalah mantan Kepala Dinas PU, seharusnya paham betul alur teknis dan memiliki empati. Namun, yang terlihat justru sikap pengecut dengan mendiamkan situasi dan membiarkan para pengusaha lokal “mati pelan-pelan”.

“Jangan pakai gaya premanisme administratif. Proyek disuruh selesai cepat, tapi bayarnya nunggu lebaran monyet!” tandas Riyadi.

Hingga berita ini ditayangkan, Wakil Bupati Lingga, Novrizal belum memberikan tanggapannya terkait permasalahan ini dan juga janji yang beberapa waktu lalu dinyatakan didepan rakyat.

Latest News
Advertise