Oleh Eka Arie Sandy

Lingga, Kepri – Kunjungan Direktur PT Tianshan Alumina Indonesia (TAI), Mr. Wu Bin, ke Gedung Daerah Daik Lingga pada Rabu (17/9/2025) belum mampu meredakan keraguan publik. Menurut Ketua Projo Lingga, meskipun Pemkab mengabarkan berita ini dengan nada optimis, masyarakat justru menilai pertemuan ini sebagai upaya mengulur waktu dan tidak memberikan jawaban pasti.

Pernyataan Direktur TAI Tidak Menjawab Masalah Utama

​Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Bupati Lingga Muhammad Nizar dan jajaran petinggi daerah, Mr. Wu Bin menegaskan komitmen perusahaannya untuk berinvestasi di Lingga. Namun, pernyataan ini dinilai tidak relevan karena tidak menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya. Masyarakat tidak menanyakan soal komitmen, melainkan progres fisik dan penyelesaian izin yang terkatung-katung. Masalah utama yang menjadi sorotan adalah status lahan yang berada di area latihan tempur TNI Angkatan Laut. Tanpa kejelasan izin dari Kementerian Pertahanan, segala komitmen hanyalah omong kosong.

Proyek Mangkrak, Bupati Terkesan Lempar Tanggung Jawab

​Menurut Ketua Projo Lingga, Selamat Riyadi, sudah terlalu sering Bupati Nizar melontarkan pernyataan optimis, tetapi faktanya tidak ada kemajuan berarti di lapangan. “Bupati selalu bilang sudah selesai di tingkat daerah, tapi kenyataannya kunci utama ada di pusat, dan sampai sekarang belum ada penandatanganan kerja sama dengan Kementerian Pertahanan,” ungkap Riyadi.

​Ia menambahkan, proyek senilai triliunan rupiah yang digadang-gadang akan membuka ribuan lapangan kerja ini terganjal masalah izin lahan di kawasan latihan militer TNI Angkatan Laut. Kondisi ini membuat proyek terkatung-katung tanpa kejelasan.

​”Janji yang terus diulang tanpa bukti konkret akan menimbulkan keraguan dan kekecewaan di tengah masyarakat,” tegas Riyadi. “Jangan sampai masyarakat Lingga dibohongi dengan janji-janji kosong.”

Masyarakat Sudah Muak, Projo Minta Bupati Jujur

​Kekecewaan ini diperparah dengan nasib program pengiriman 20 pemuda Lingga ke Tiongkok yang sempat digagas. Hingga kini, nasib program tersebut tidak jelas, seolah ikut menunggu kepastian dari proyek smelter yang tak kunjung dimulai.

​”Masyarakat Lingga sudah cerdas. Mereka bisa menilai mana janji yang serius dan mana yang hanya sebatas retorika politik,” kata Riyadi. Ia meminta Bupati Nizar untuk jujur dan transparan kepada masyarakat tentang progres sebenarnya dari investasi ini, daripada terus menebar harapan palsu.

​Dengan batas waktu izin PT TAI yang kabarnya akan habis pada Desember 2025, Selamat Riyadi pesimistis proyek tersebut dapat direalisasikan. Jika proyek ini gagal, maka janji-janji yang selama ini dielu-elukan akan menjadi beban politik dan kekecewaan besar bagi seluruh masyarakat Lingga.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *