Lingga – Mustazar memandang Pertarungan politik seperti pemilu Legislatif dan Pilkada di mata sebagian besar masyarakat sesungguhnya bukanlah persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bagi masyarakat umum, mereka berharap bahwa pertarungan itu sportif, dan siapa pun pemenangnya maka pemerintahan tersebut dapat membawa perbaikan dalam hal kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, Politik semestinya menyangkut aspek partisipasi rakyat yang sejati. Tentunya bukan partisipasi yang hanya sekadar partisipasi angka-angka ataupun jumlah, atau pesta euforia politik.
Namun partisipasi yang berdasarkan pilihan kualitas, sebuah demokrasi yang bermutu, sebuah politik yang beradab, jauh dari intervensi dan tekanan-tekanan, sehingga melahirkan demokrasi yang bermutu dan bermanfaat
Maka politik harus menjadi wadah dalam upaya penguatan sumber daya, watak dan nalar, kewarasan, dan kebajikan pada aspek tanggung jawab dan perilaku yang konstruktif, sebab tanggung jawab pelaku politik tidak hanya di dunia saja, tapi sampai akhirat.
Oleh karena itu, politik harus berdasarkan pada pembentukan karakter atau watak individu yang positif, baik rakyatnya maupun para pemimpinnya. Karakteristik watak individu yang positif pada gilirannya akan membangun sebuah watak karakteristik pemilih yang positif pula. Warganya hebat, daerahnya kuat, negaranya selamat.
Seperti pertandingan bola, Politik juga harus sportif, jika dilakukan penuh kecurangan dan akal-akalan, ‘hanya untuk menang’, akan membawa rasa hampa terhadap tontonan yang tak bermutu, tak membawa nilai tambah, malah menginspirasi perilaku negatif.
Sebagai contoh, betapa kecewanya kita saat menonton Timnas sepak bola U23. Ketika pemain lawan dan wasit tidak berlaku sportif. Setelah peluit (tahapan) di mulai wasit, dan gol-gol tercipta, masih dalam waktu permainan (sebelum penetapan), alih2 pelatih dan manager mengakui ada persyaratan pemain sepak bola yang dibuat fiktif.
Memang kasus langka dalam sepak bola, pelatih dan manager berbuat tidak jujur dengan syarat administrasi yang dibuat fiktif. Namun wasit pertandingan tetap melanjutkan permainan, induk sepak bola FIFA dan AFC tetap melanjutkan permainan (begitu lah ilustrasi kondisi politik kita di Lingga).
Politik juga merupakan perjuangan nilai-nilai kebajikan, kemaslahatan bersama, bukan kepentingan kelompok yang menjadi tujuan, namun kepentingan ‘kita’ semua, ‘kita bersama’ sebagai sebuah keutamaan. Oleh karenanya, sebuah kesenjangan sosial ekonomi adalah musuh bersama.
Apa pun agama dan keyakinan kita, perilaku dan kepentingan individu atau kelompok yang korup dan menolak memahami tanggung jawab sosial dalah lawan dan musuh kita bersama.
Penulis : Mustazar
Editor : EAS







