Oleh: Teddy Maembong (Ketua LSM Megat)
Editor: Eka Arie Sandy
Kepri, 15 Mei – Hari Marwah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bukan sekadar peringatan administratif. Hari ini lahir dari perjuangan keras para tokoh yang menginginkan kemandirian dan identitas bagi daerahnya. Namun, di balik kemeriahan perayaan setiap tahun, ada satu fakta yang sering terabaikan: banyak pejuang lokal justru dilupakan dalam pembangunan yang mereka perjuangkan.
Pejuang yang Terpinggirkan
Mereka yang dulu gigih memperjuangkan berdirinya Provinsi Kepri berdiskusi tanpa lelah, berkeliling dari pulau ke pulau, dan menyuarakan aspirasi masyarakat ke pemerintah pusat kini banyak yang tak lagi diingat. Bahkan yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pun seringkali tidak mendapat posisi strategis. Sementara itu, jabatan penting justru banyak diisi oleh pendatang yang tidak terlibat dalam perjuangan tersebut.
Ini ironis. Semangat otonomi daerah seharusnya memberi ruang bagi putra-putra daerah untuk memimpin. Namun, kenyataannya, justru “marwah” (harga diri) Kepri perlahan terkikis. Kepri bukan milik segelintir orang, melainkan warisan bersama yang harus dijaga dengan adil.
Refleksi di Hari Marwah
Hari Marwah seharusnya menjadi momen untuk merenung:
-
Apakah semangat perjuangan masa lalu masih hidup dalam kebijakan saat ini?
-
Apakah kita benar-benar menghargai jasa para pendahulu, atau hanya mengingat mereka saat seremoni tahunan?
Sudah saatnya marwah Kepri dikembalikan kepada yang berhak. Bukan untuk memecah belah, tetapi untuk menegakkan keadilan bagi para pejuang yang selama ini diam namun tetap setia mengabdi.
Huzrin Hood: Pejuang yang Terlupakan
Salah satu tokoh yang patut dikenang adalah Huzrin Hood, salah satu penggagas utama berdirinya Provinsi Kepri. Ia mengorbankan banyak hal, termasuk kenyamanan hidupnya, demi mewujudkan provinsi ini. Namun, namanya kini seolah hilang dari ingatan resmi. Jarang disebut dalam kebijakan, program pemerintah, atau pidato pejabat.
Padahal, Pemprov Kepri yang berdiri megah sekarang ini dibangun di atas perjuangan Huzrin Hood dan kawan-kawannya. Fasilitas mewah, kekuasaan, dan kenyamanan yang dinikmati hari ini adalah hasil jerih payah mereka. Apakah terlalu berat untuk memberikan penghargaan yang layak? Atau sejarah hanya dianggap penting ketika butuh legitimasi?
Janji Moral yang Harus Ditepati
Hari Marwah bukan sekadar mengenang, tetapi juga menagih janji moral:
-
Pejuang tidak boleh dilupakan.
-
Sejarah tidak boleh diputarbalikkan.
Jika kita tidak bisa menghargai mereka yang berjuang, jangan heran jika generasi mendatang kehilangan semangat untuk membela daerah ini. Mari jadikan Hari Marwah sebagai pengingat untuk lebih menghargai jasa para pendahulu.
Bagaimana pendapat Anda? Siapa lagi pejuang Kepri yang layak dikenang?
(Teddy Maembong adalah Ketua LSM Megat, organisasi yang aktif menyuarakan isu-isu kebijakan publik dan pelestarian sejarah di Kepri. Artikel ini diedit oleh Eka Arie Sandy.)