Gali Lubang, Tutup Lubang, Eh… Malah Kejeblos: Kisah APBD Lingga yang Sedang ‘Koma’

Oleh: Eka Arie Sandy 😎

LINGGA – Pernahkah Anda merasa sangat percaya diri memesan steak Wagyu A5 di restoran mewah, tapi pas mau bayar, baru sadar kalau di dompet cuma ada kartu timezone dan sisa struk parkir? Nah, kurang lebih begitulah gambaran kondisi keuangan Pemerintah Kabupaten Lingga saat ini.

​Baru-baru ini, sebuah “surat cinta” resmi dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Lingga mendadak viral. Foto surat dengan nomor B/140/DPMD/1070 tertanggal 17 Desember 2025 itu bukan berisi undangan makan malam, melainkan pengumuman pahit bagi seluruh perangkat desa.

Isinya singkat, padat, dan menyayat hati: Alokasi Dana Desa (ADD) bulan November dan Desember 2025 resmi tidak bisa dibayar penuh. Alasannya klasik, mirip jawaban teman yang belum bayar utang: “Kondisi keuangan lagi nggak memungkinkan, Bro. Tahun depan ya!”

Target PAD: Antara Optimisme dan Halusinasi 😂

​Mari kita bedah kenapa dompet Pemkab Lingga bisa kering kerontang seperti itu. Ternyata, akar masalahnya ada pada hobi “halusinasi” saat menyusun anggaran. Bayangkan, mereka berani memasang target Pendapatan Asli Daerah (PAD) melonjak drastis hingga 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

​Analoginya begini, Anda biasanya cuma bisa mancing ikan lele di selokan depan rumah, tapi tiba-tiba sesumbar di tongkrongan, kalau tahun depan bakal dapat Ikan Paus Biru buat dijual dengan harga tinggi. Padahal, alat pancingnya masih sama dan selalu gak fokus karena hobi main game push rank sampai lupa waktu. Ketika “Paus Biru” yang diharapkan tak kunjung muncul, sementara tagihan listrik dan cicilan motor sudah menumpuk di meja, di situlah drama “tunda bayar” dimulai. Surat dari DPMD tadi adalah bukti nyata kalau hasil pancingan mereka zonk, sehingga dana desa pun terpaksa dikorbankan dan dijanjikan baru akan dibayar tahun depan.

Beban Pegawai yang Makin ‘Gendut’ 😏

​Masalah makin pelik karena Pemkab Lingga terlihat punya hobi mengoleksi pegawai layaknya kartu Pokemon. Pengangkatan PPPK dalam jumlah besar memang terlihat keren di media sosial, tapi masalahnya, gaji mereka harus dibayar pakai uang beneran, bukan pakai janji manis atau ucapan terima kasih.🥳🥳🥳

​Bayangkan Anda punya warung kelontong kecil, tapi karyawannya ada 50 orang. Akhirnya, setiap akhir bulan sang pemilik warung pusing tujuh keliling mencari pinjaman sana-sini. Karena terlalu fokus membayar gaji dan tunjangan yang membengkak, uang untuk operasional desa dan pembangunan infrastruktur, seperti jembatan di Marok Kecil yang kabarnya mangkrak itu akhirnya lenyap tak berbekas. 👻

Siapa yang Salah? Mari Kita Tunjuk-tunjukan! 🤪

​Kalau ditanya siapa yang bertanggung jawab atas kondisi “dompet koma” ini, jawabannya seperti mencari siapa yang buang angin di dalam lift yang penuh:

  1. Bupati & Wakil Bupati: Sebagai “Nakhoda”, mereka yang menentukan arah kapal. Kalau kapalnya nabrak karang karena terlalu banyak muatan pegawai dan kurang bahan bakar pendapatan, tentu nakhoda yang paling bertanggung jawab memegang kemudi. ⛰️🚢😮‍💨
  2. Tim Anggaran (TAPD): Ini adalah para “Akuntan” yang seharusnya mengingatkan kalau angka-angka di kertas itu cuma khayalan. Tapi sepertinya mereka lebih memilih ikut mengangguk setuju daripada kena semprot pimpinan.  📊🔍🙄👌
  3. DPRD Lingga: Sebagai “Wasit”, mereka seharusnya meniup peluit kalau rencana anggarannya sudah tidak masuk akal. Eh, ternyata wasitnya malah asyik ikut nonton sampai akhirnya sadar kalau pertandingannya sudah kacau balau. 🫣🙅‍♂️🫨
Endingnya: Pinjam Bank Jadi Solusi (Lagi) 👨‍🔧🤕

​Karena sudah mentok dan malu kalau ketahuan bokek total, Pemkab Lingga dikabarkan mengambil langkah nekat: pinjam uang puluhan miliar ke bank. Strategi ini persis seperti prinsip “Gali Lubang Tutup Jurang”, lubangnya tertutup sedikit, tapi jurangnya makin dalam karena beban bunga dan cicilan bakal menghantui APBD tahun-tahun mendatang. 🏦📈🆘

​Berdasarkan foto surat yang beredar, jelas sekali bahwa desa-desa diminta bersabar sementara pemerintah kabupaten sibuk merapikan “piring pecah” akibat perencanaan yang ugal-ugalan. Harapannya, semoga tahun depan ada keajaiban fiskal, atau setidaknya dompet Pemkab Lingga nggak cuma berisi kartu timezone lagi.

Untuk para perangkat desa dan pegawai, harap tetap semangat💪🥲, ini adalah ujian kesabaran di negeri yang katanya kaya tapi lagi hobi ngutang.🤑

👻👻👻

‼️Hanya Hiburan: Jangan Dibawa Serius‼️

   Gali – Gali – Gali – Gali – Gali – Gali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *