Lingga – Pernyataan Calon Bupati Nomor urut 01 Pilkada Lingga, M. Nizar saat Kampanye di Desa Persiapan Cempaka, Senin (04/11) yang menyalahkan spesifikasi mesin produksi sebagai penyebab kerugian proyek AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) milik BUMD Lingga dibantah tegas oleh salah satu mantan pengurus Proyek AMDK yang bekerja pada tahun 2022 lalu.

Sebagai Mantan Pengurus yang pernah bekerja di Proyek AMDK, Narasumber tidak mau namanya disebut mengatakan, pernyataan yang dilontarkan M. Nizar saat kampanye tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan dan terkesan “asal bunyi” dan tidak berdasar.

Dia menduga, M. Nizar hanya mencari-cari alasan, dengan menyalahkan mesin produksi, dirinya sebagai Pimpinan Pemerintah Daerah tidak mau disalahkan atas kegagalan proyek tersebut, padahal mesin produksi tersebut sebenarnya tidak pernah bermasalah, serta sudah sesuai dengan spesifikasi dan kebutuhan produksi saat itu.

Poto Kegiatan Pekerja saat Proyek AMDK masih beroperasi

“Kami akui memang proyek tersebut mengalami kerugian, namun bukan karena mesin produksi yang dibilangnya rakitan itu, untuk kebutuhan produksi saat itu, walaupun sudah di custom, namun itu sudah sesuai dengan spesifikasi, mesin tersebut sangat layak digunakan”, ungkapnya kepada GebrakNusantara.id, Rabu (06/11).

Menurutnya, penyebab utama kerugian Proyek AMDK Cap Gunung Daik tersebut adalah keterbatasan modal usaha, hal tersebut menyebabkan sulitnya mendapatkan bahan baku yang sesuai dengan harga yang di inginkan.

Modal yang terbatas menyebabkan pengadaan bahan baku yang seharusnya didapat dengan harga murah dengan cara grosir, menjadi membengkak, karena pengadaan bahan baku hanya dapat dibeli dengan cara mencicil atau sedikit-sedikit, sesuai dengan kekuatan modal yang terbatas.

“Salah kalau ia mengatakan Kerugian disebabkan oleh Mesin Produksi, mesin tak ada masalah, yang menjadi masalah utama kerugian itu adalah dalam pengadaan bahan baku yang kita beli secara cicil, seharusnya bahan baku dibeli dengan cara grosir yang lebih murah, namun hal itu tidak dapat kita lakukan karena modal yang terbatas”, sambungnya.

Selain itu, menurutnya Faktor Listrik yang disediakan PLN Daik yang sering padam juga menambah masalah yang dapat menyebabkan kerugian Usaha tersebut.

“Seringnya terjadi mati listrik juga menjadi faktor penambah kerugian, sebab saat sedang beroperasi, mesin tersebut tidak boleh mati secara tiba-tiba, jika itu terjadi, bahan baku yang sedang diproses harus terpaksa di buang dan tidak dapat digunakan lagi saat itu”, tambahnya

Disinggung sejauh mana kontribusi Pemerintah Daerah terkait mengatasi masalah Modal Usaha tersebut, Ia mengatakan bahwa semenjak Kepemimpinan M. Nizar sebagai Bupati Lingga, Pemkab Lingga tidak pernah berupaya mengatasi masalah tersebut

“Tak ada bang, seribu rupiah pun mereka tidak ada bantu masalah itu, itu yang saya sesalkan, dulu ketika proyek itu berjalan, prospeknya kala itu sangat menjanjikan, coba saat itu Pemkab dapat mencarikan solusi, pasti saat ini kita sama-sama masih bisa merasakan manfaatnya”, kesalnya.

Lebih jauh Ia mengatakan, berdasarkan data yang Ia miliki, dengan segala keterbatasan, hasil produksi dari Proyek AMDK sudah maksimal. Setiap hari, ada dua jalur mesin produksi air kemasan yang di miliki BUMD Lingga untuk memproduksi air minum dalam kemasan.

Jalur pertama adalah memproduksi air minuman dalam kemasan gelas (cup). Dalam satu hari kerja (8 jam), minimal dapat memproduksi 7.000 kemasan air minum yang siap edar. Sedangkan untuk jalur kedua yakni memproduksi minuman botol kapasitas 330 dan 600 mililiter secara bergiliran.

Pada jalur kedua, bisa memproduksi sedikitnya 4.200 botol untuk ukuran 330 ml, dan untuk ukuran 600 ml dapat memproduksi sebanyak 2.500 botol.

Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan produksi air minum melebihi dari apa yang disebutkan M. Nizar dalam kampanyenya.

“Sesuai data yang saya miliki sebagai salah satu pengurus dalam Proyek tersebut, angka minimal produksi kami dulu saja, jauh lebih tinggi dari target 1.000 itu, saya sendiri tidak tau angka 1.000 itu dari mana munculnya, jika bicara berdasarkan data, saya juga tidak mengetahui dia pakai data yang mana”. ucap sumber meragukan Data yang dimiliki M. Nizar.

Di tempat terpisah, terkait hal tersebut, Mantan Bupati Lingga, Alias Wello ketika diminta tanggapannya mengatakan bahwa pembelian mesin AMDK disesuaikan dengan anggaran yang disiapkan dan kebutuhan produksi kala itu.

Untuk tahap awal, pendirian usaha air minum ini ditujukan untuk kebutuhan pasar lokal, seperti pemakaian Rumah Tangga dan Perkantoran. Jadi spesifikasi mesin produksi tersebut sudah sangat layak dan sesuai kebutuhan kala itu.

“Sebagai upaya memaksimalkan potensi daerah, dalam hal ini ketersediaan sumber air kita yang melimpah dan tidak banyak dimiliki daerah lain, saya telah memulai pembangunan dasar Proyek AMDK ini, namun sayang Pemerintah selanjutnya tidak dapat mengembangkan potensi ekonomi yang sangat besar ini”, tutur Alias Wello.(EAS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *