Lingga, 27 Mei 2025 – Selamat Riyadi, aktivis lingkungan dan kebangsaan asal Lingga, melayangkan kritik pedas terhadap Bandara Kelas III Dabo Singkep terkait kelalaian menurunkan bendera merah putih pada malam hari. Kejadian ini terjadi bertepatan dengan malam pelaksanaan serah terima jabatan (sertijab) kepala bandara setempat, Rabu (27/5/2025). Menurut Riyadi, insiden ini memperlihatkan ketidakseriusan pengelola dalam menjaga protokol kebangsaan, bahkan di momen penting pergantian kepemimpinan.
Insiden di Tengah Momen Sertijab
Riyadi menyebut, pada malam sertijab kepala bandara, bendera merah putih masih berkibar di tiang utama bandara meski hari telah gelap, melanggar Pasal 7 UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara. “Ini ironis. Di saat ada acara seremonial pergantian pejabat, justru ada kelalaian terhadap simbol negara. Apakah ini cerminan budaya kerja yang abai pada hal fundamental?” tanyanya.
Ia menduga, fokus pihak bandara pada acara sertijab dan seremonial menyebabkan pengawasan terhadap tata kelola bendera terbengkalai. Padahal, menurut aturan, bendera wajib diturunkan setelah matahari terbenam kecuali dalam kondisi khusus dengan penerangan memadai. “Jika mereka bisa menyiapkan acara serah terima jabatan dengan rapih, seharusnya penurunan bendera juga bisa dilakukan tepat waktu,” tambah Riyadi.
Tuntutan Evaluasi Proses Sertijab
Aktivis ini mendesak agar proses sertijab kepala bandara tidak hanya sekadar formalitas, tetapi juga diikuti peningkatan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan. Ia meminta kepala bandara yang baru dilantik untuk segera mempertanggungjawabkan insiden ini. “Ini ujian pertama bagi kepemimpinan yang baru. Jangan sampai ada kesan bahwa sertijab hanya ritual birokrasi tanpa perubahan konkret,” tegasnya.
Respons Otoritas Bandara
Sampai berita ini diturunkan, pihak Bandara Dabo Singkep belum memberikan klarifikasi resmi. Namun, sejumlah sumber internal menyebut insiden ini terjadi karena staf yang bertugas fokus pada persiapan acara sertijab, sehingga lupa menurunkan bendera.
Sorotan Publik
Masyarakat Lingga, yang aktif dalam kegiatan patriotik seperti pengibaran bendera bawah laut pada Agustus lalu, menyayangkan insiden ini. “Justru di momen pergantian pimpinan, seharusnya ada contoh baik dalam menjaga martabat bangsa. Ini malah jadi blunder,” ujar seorang warga di Dabo Singkep. Riyadi berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi seluruh instansi agar tidak mengorbankan protokol kebangsaan demi kepentingan seremonial.(EAS)